Archive: January 25, 2018

Dilan 1990: Suguhan Manis Dari Novel Laris

“Milea, kamu cantik tapi aku belum mencintaimu, ga tau kalau sore, tunggu aja” – Dilan

208D8B00-5AC6-4315-BA59-EE828FFB5C57

Cast: Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Yoriko Angeline, Brandon Salim, Debo Andryos Aryanto, Zulfa Maharani, Giulio Parengkuhan, Refal Hadi, Ria Irawan, Happy Salma / Director: Fajar Bustomi & Pidi Baiq / Genre: Drama, Romance / Runtime: 115 minutes

Fenomenal dan dicintai pembacanya, dua kata yang setidaknya mampu menggambarkan kesuksesan Dilan, novel teenlit yang pertama kali diterbitkan pada bulan April 2014. Ditengah menurunnya penjualan buku laris karya penulis fiksi lokal, novel karya Pidi Baiq tersebut seakan membawa angin segar dalam kiprah perbukuan nasional. Tidak membutuhkan waktu yang lama, novel berdasarkan kisah nyata tersebut di cetak berkali-kali dan semakin populer dimana-mana. Tidak sedikit dari fans novelnya berharap kisah Dilan diangkat ke layar lebar. Sempat mengkonfirmasi bahwa novelnya tidak akan dibuatkan filmnya, adalah Max Pictures, rumah produksi yang berhasil membeli hak ciptanya untuk dibuatkan versi filmnya yang rilis diawal tahun ini.

C7103EF4-9D10-425A-96A4-B72CB83D1F8BMax Pictures yang masih merupakan bagian dari Falcon Pictures memang nampaknya semakin jeli dalam memilih materi filmnya. Setelah suksesnya Warkop DKI Reborn dan Comic 8, kini giliran Dilan yang dilirik. Falcon Pictures sendiri dapat dikatakan semakin serius dalam menggarap proyek-proyeknya Begitupun dengan Dilan yang mendapat treatment istimewa. Pengumuman siapa saja casts terpilih yang dilakukan pertengahan tahun lalu diwarnai pro dan kontra dari para fanatik novelnya. Yang paling menjadi highlight adalah sosok Dilan yang jatuh ke tangan mantan personel grup vokal CJR, Iqbaal mendapat kontra yang cukup banyak. Kala itu tidak sedikit yang memprediksi filmnya akan gagal karena karakter utama diperankan aktor yang dianggap ‘kurang mewakili’ apa yang menjadi imajinasi banyak orang selama ini. Lalu benarkah hasilnya tidak maksimal?

Milea (Vanesha Prescilla) adalah anak baru pindahan dari Jakarta sedangkan Dilan (Iqbaal Ramadhan) adalah siswa yang terkenal sering tawuran namun baik hati. Mereka bertemu di tahun 1990 disebuah SMA di Bandung dengan perkenalan yang tidak biasa. Dilan yang unik dan romantis dengan cepatnya masuk kedalam kehidupan Milea. Dilan meramal suatu hari nanti Milea akan menjadi pacarnya. Hal tersebut tidak berjalan mulus begitu saja mengingat Milea sudah memiliki kekasih di Jakarta bernama Beni (Brandon Salim). Perjalanan cinta mereka yang diwarnai berbagai konflik tidak menggetarkan keduanya yang mulai saling rindu, melengkapi dan membutuhkan satu sama lain.

Apa yang membuat Dilan begitu istimewa? Rupanya bahasanya yang dikemas ringan, puitis dan senantiasa mengundang tawa adalah kekuatan dari novelnya. Menerjemahkan novel menjadi sebuah film memang bukan pekerjaan yang mudah. Tidak jarang berakhir mengecewakan. Meskipun memiliki materi sederhana tidak lantas membuat pekerjaan Fajar Bustomi & Pidi Baiq sendiri selaku penulis novel sekaligus sutradara menjadi mudah. Beberapa faktor tentu menjadi sangat penting perannya dalam pengangkatan cerita yang mengambil latar Bandung ini. Sebagai orang yang belum pernah membaca novelnya, rasanya pemilihan casts tergolong tepat. Iqbaal yang banyak diragukan mampu membuktikan bahwa pilihan kreator dibalik film ini tidak salah. Tanpa kelihatan ragu sama sekali, Dilan diperankan dengan sangat baik olehnya. Karakter Dilan yang cuek, berani dan pemberontak namun rajin mengucapkan kata-kata puitis berhasil diwujudkannya dengan cukup sempurna. Begitupun Milea (Vanesha Prescilla) dimana chemistry-nya dengan Panglima Tempur mampu dirasakan oleh siapapun yang menyaksikannya.

9CA6B81C-0FF1-4222-B916-9266B3A03C7DDilan 1990 beruntungnya tidak pernah benar-benar menjadi kisah percintaan yang di dramatisir disana-sini. Dialog-dialog ringan yang sesekali terdengar kaku mampu termaafkan. Beberapa karakter terasa amat tipikal namun konfliknya yang tidak begitu beragam justru membuat film terasa semakin realistis, dimana sudah barang tentu hal tersebut adalah poin positif. Fajar & Pidi secara konsisten mampu membuat perasaan penontonnya menjadi campur aduk dan terbawa kedalam kisahnya sehingga penonton juga dibuat peduli akan karakter-karakternya. Jika sudah sampai pada level tersebut, sebuah adaptasi rasanya dapat dikatakan berhasil.

Keputusan pihak studio untuk mengangkat Dilan ke layar lebar nampaknya adalah sebuah keputusan yang tepat. Dengan pencapaian demikian, Dilan tidak hanya menjadi proyek yang dibuat atas alasan keuntungan semata tetapi juga menjadi jawaban atas permintaan fans yang sudah lama ingin kisah Dilan difilmkan. Bersiaplah meleleh melalui kisah cinta sederhana yang. Jangan skeptis dulu sebelum benar-benar menyaksikannya karena Dilan bisa saja mengembalikan ketidakpercayaan masyarakat akan film drama Indonesia yang dianggap akan selalu berakhir ‘menye-menye’. Pada akhirnya para pembacanya lah yang berhak menilai lebih dalam apakah adaptasinya berhasil atau tidak. Terlepas dari puas atau tidak puas jika berdiri sendiri sebagai sebuah film, ini adalah film yang sederhana, manis dan cukup memikat.

Nominasi Academy Awards 2018: Shape of Water Memimpin, Oscar #NotSoWhite Tahun Ini

oscar-nominations-2018Pagelaran Academy Awards yang tahun ini memasuki tahun ke 90 akhirnya mengumumkan para nominatornya kemarin malam live dari The Samuel Goldwyn Theater in Beverly Hills, California. Sineas-sineas yang sebelumnya sudah berjaya di ajang perfilman seperti Golden Globe Awards, SAG Awards dan beberapa ajang lainnya juga muncul mengisi jajaran nominasi Oscars 2018 sebut saja Guillermo Del Toro (Directing), Frances McDormand (Leading Actress), Gary Oldman (Leading Actor), Saiorse Ronan dan lainnya. Nominasi terbanyak diraih film Shape of Water dengan jumlah 13 nominasi sedangkan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri yang memenangkan kategori Film Terbaik dalam dua ajang besar meraih total 7 nominasi. Dibalik nama yang sudah dengan diprediksi akan meraih nominasi tentu bukan Oscar namanya jika tanpa kejutan. Mulai dari James Franco (The Disaster Artist), Michelle Williams (All The Money In The World) hingga film Wonder Woman yang dianggap unggul di kategori teknis tidak mendapat apresiasi dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) sedangkan Daniel Kaluuya melalui debutnya, Get Out berhasil mendapat nominasi. Hugh Jackman juga aktor lain yang tidak berhasil masuk sebagai salah satu nominator atas peran apiknya dalam The Greatest Showman. Beruntung This Is Me tidak serta merta hilang dari daftar nominasi. Akankah tahun ini Academy Awards  mencetak kuda hitam yang akan membawa pulang piala Oscar tanpa diprediksi sebelumnya?

Berikut nominasi lengkapnya!

Best Picture:

“Call Me by Your Name”
“Darkest Hour”
“Dunkirk”
“Get Out”
“Lady Bird”
“Phantom Thread”
“The Post”
“The Shape of Water”
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”

Lead Actor:

Timothée Chalamet, “Call Me by Your Name”
Daniel Day-Lewis, “Phantom Thread”
Daniel Kaluuya, “Get Out”
Gary Oldman, “Darkest Hour”
Denzel Washington, “Roman J. Israel, Esq.”

Lead Actress:

Sally Hawkins, “The Shape of Water”
Frances McDormand, “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”
Margot Robbie, “I, Tonya”
Saoirse Ronan, “Lady Bird”
Meryl Streep, “The Post”

Supporting Actor:

Willem Dafoe, “The Florida Project”
Woody Harrelson, “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”
Richard Jenkins, “The Shape of Water”
Christopher Plummer, “All the Money in the World”
Sam Rockwell, “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”

Supporting Actress:

Mary J. Blige, “Mudbound”
Allison Janney, “I, Tonya”
Lesley Manville, “Phantom Thread”
Laurie Metcalf, “Lady Bird”
Octavia Spencer, “The Shape of Water”

Director:

“Dunkirk,” Christopher Nolan
“Get Out,” Jordan Peele
“Lady Bird,” Greta Gerwig
“Phantom Thread,” Paul Thomas Anderson
“The Shape of Water,” Guillermo del Toro

Animated Feature:

“The Boss Baby,” Tom McGrath, Ramsey Ann Naito
“The Breadwinner,” Nora Twomey, Anthony Leo
“Coco,” Lee Unkrich, Darla K. Anderson
“Ferdinand,” Carlos Saldanha
“Loving Vincent,” Dorota Kobiela, Hugh Welchman, Sean Bobbitt, Ivan Mactaggart, Hugh Welchman

Animated Short:

“Dear Basketball,” Glen Keane, Kobe Bryant
“Garden Party,” Victor Caire, Gabriel Grapperon
“Lou,” Dave Mullins, Dana Murray
“Negative Space,” Max Porter, Ru Kuwahata
“Revolting Rhymes,” Jakob Schuh, Jan Lachauer

Adapted Screenplay:

“Call Me by Your Name,” James Ivory
“The Disaster Artist,” Scott Neustadter & Michael H. Weber
“Logan,” Scott Frank & James Mangold and Michael Green
“Molly’s Game,” Aaron Sorkin
“Mudbound,” Virgil Williams and Dee Rees

Original Screenplay:

“The Big Sick,” Emily V. Gordon & Kumail Nanjiani
“Get Out,” Jordan Peele
“Lady Bird,” Greta Gerwig
“The Shape of Water,” Guillermo del Toro, Vanessa Taylor
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri,” Martin McDonagh

Cinematography:

“Blade Runner 2049,” Roger Deakins
“Darkest Hour,” Bruno Delbonnel
“Dunkirk,” Hoyte van Hoytema
“Mudbound,” Rachel Morrison
“The Shape of Water,” Dan Laustsen

Best Documentary Feature:

Best Documentary Short Subject:

“Edith+Eddie,” Laura Checkoway, Thomas Lee Wright
“Heaven is a Traffic Jam on the 405,” Frank Stiefel
“Heroin(e),” Elaine McMillion Sheldon, Kerrin Sheldon
“Knife Skills,” Thomas Lennon
“Traffic Stop,” Kate Davis, David Heilbroner

Best Live Action Short Film:

“DeKalb Elementary,” Reed Van Dyk
“The Eleven O’Clock,” Derin Seale, Josh Lawson
“My Nephew Emmett,” Kevin Wilson, Jr.
“The Silent Child,” Chris Overton, Rachel Shenton
“Watu Wote/All of Us,” Katja Benrath, Tobias Rosen

Best Foreign Language Film:

“A Fantastic Woman” (Chile)
“The Insult” (Lebanon)
“Loveless” (Russia)
“On Body and Soul (Hungary)
“The Square” (Sweden)

Film Editing:

“Baby Driver,” Jonathan Amos, Paul Machliss
“Dunkirk,” Lee Smith
“I, Tonya,” Tatiana S. Riegel
“The Shape of Water,” Sidney Wolinsky
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri,” Jon Gregory

Sound Editing:

“Baby Driver,” Julian Slater
“Blade Runner 2049,” Mark Mangini, Theo Green
“Dunkirk,” Alex Gibson, Richard King
“The Shape of Water,” Nathan Robitaille, Nelson Ferreira
“Star Wars: The Last Jedi,” Ren Klyce, Matthew Wood

Sound Mixing:

“Baby Driver,” Mary H. Ellis, Julian Slater, Tim Cavagin
“Blade Runner 2049,” Mac Ruth, Ron Bartlett, Doug Hephill
“Dunkirk,” Mark Weingarten, Gregg Landaker, Gary A. Rizzo
“The Shape of Water,” Glen Gauthier, Christian Cooke, Brad Zoern
“Star Wars: The Last Jedi,” Stuart Wilson, Ren Klyce, David Parker, Michael Semanick

Production Design:

“Beauty and the Beast,” Sarah Greenwood; Katie Spencer
“Blade Runner 2049,” Dennis Gassner, Alessandra Querzola
“Darkest Hour,” Sarah Greenwood, Katie Spencer
“Dunkirk,” Nathan Crowley, Gary Fettis
“The Shape of Water,” Paul D. Austerberry, Jeffrey A. Melvin, Shane Vieau

Original Score:

“Dunkirk,” Hans Zimmer
“Phantom Thread,” Jonny Greenwood
“The Shape of Water,” Alexandre Desplat
“Star Wars: The Last Jedi,” John Williams
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri,” Carter Burwell

Original Song:

“Mighty River” from “Mudbound,” Mary J. Blige
“Mystery of Love” from “Call Me by Your Name,” Sufjan Stevens
“Remember Me” from “Coco,” Kristen Anderson-Lopez, Robert Lopez
“Stand Up for Something” from “Marshall,” Diane Warren, Common
“This Is Me” from “The Greatest Showman,” Benj Pasek, Justin Paul

Makeup and Hair:

“Darkest Hour,” Kazuhiro Tsuji, David Malinowski, Lucy Sibbick
“Victoria and Abdul,” Daniel Phillips and Lou Sheppard
“Wonder,” Arjen Tuiten

Costume Design:

“Beauty and the Beast,” Jacqueline Durran
“Darkest Hour,” Jacqueline Durran
“Phantom Thread,” Mark Bridges
“The Shape of Water,” Luis Sequeira
“Victoria and Abdul,” Consolata Boyle

Visual Effects:

The Death Cure: Sebuah Penutup yang Pantas

TDCposter

Every Maze Has An End.

3cinemaylo1141

Cast: Dylan O’Brien, Ki Hong Lee, Will Poutler, Kaya Scodelario, Thomas Brodie-Sangster, Rosa Salazar, Ava Paige / Director: Wes Ball / Genre: Action, Sci-Fi, Thriller / Runtime: 142 minutes

Film yang diangkat dari novel young adult beberapa tahun belakangan memang sempat menjadi tren. The Hunger Games yang sukses tidak hanya secara finansial namun juga dipuji kritikus mau tidak mau diakui menjadi salah satu alasan ramainya formula tersebut diangkat ke layar lebar. Kemudian muncul Divergent yang dibintangi Shailene Woodley. Berselang beberapa bulan kemudian giliran novel karya James Dashner, The Maze Runner yang dibuatkan versi filmnya. Menandai debut Wes Ball sebagai sutradara, kala itu babak pertama kisah labirin yang misterius mendapat reaksi dan tanggapan beragam. Banyak yang memberikan apresiasi positif karena berhasil tersaji sebagai film yang seru dan memiliki bobot tetapi ada juga berpendapat lain. Kini, babak terakhir dari trilogi Maze Runner berjudul The Death Cure yang akan menutup kisah Thomas dan kawan-kawan akhirnya dirilis setelah mundur dari jadwal rilis awal.

mz1Bersama dengan anggota yang masih tersisa, kelompok Glatder yang dipimpin Thomas (Dylan O’Brien) kini harus memasuki tantangan terakhir yakni The Last City. Dalam upayanya, mereka gagal menyelamatkan Min Ho (Ki Hong Lee) yang kini menjadi tahanan W.C.K.D, subjek tes projek ilmiah yang dikerjakan oleh Teresa (Kaya Scodelario) yang berkhianat. Tidak ada pilihan lain bagi Glatder selain mengambil alih kendali The Last City untuk memenangkan pertarungan.

Jika melihat kembali dua seri sebelumnya, Ball melakukan pekerjaan yang cukup baik. Hal tersebut membuat PR sang sutradara untuk menutup film ini tentu juga cukup berat. Flashback, film pertama digunakan sebagai pengenalan karakter-karakternya. Sebagai sebuah film yang tidak berbujet besar, Ball sukses menghadirkan ketegangan lewat adegan-adegan yang dibungkus dengan dark tone yang amat menarik. Film kedua mengeksplor lebih banyak adegan aksi meloloskan diri dari wujud zombie yang menghiasi sepanjang film dengan pace yang intens dan cerita yang lebih kompleks. Jika Anda bukan benar-benar fansnya maka mungkin akan membutuhkan waktu untuk mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya mengingat film ketiganya memiliki selisih dua tahun setelah yang kedua tayang di bioskop.

thedeathcure1Tanpa berlama-lama The Death Cure langsung tancap gas. Gelaran aksi yang bergulir sejak awal seakan mencoba mengajak penonton untuk langsung memperbaiki posisi duduk menyaksikan perjalanan Glatder sambil berpikir apa dan kemana lagi Thomas beserta teman-temannya berpetualang demi  menghentikan upaya organisasi gelap W.C.K.D. Penggarapan yang matang terlihat dari adegan demi adegan yang dibuat sedemikian rapi. Dylan O’Brien yang memegang kendali utama mampu menunjukkan performa yang sekali lagi apik. Meskipun chemistry antara karakter satu dengan karakter yang lain masih terasa kurang meyakinkan namun beruntungnya plot yang secara konsisten menceritakan kisah perjuangan bertahan hidup, pengkhianatan hingga persahabatan masih dapat disuguhkan dengan cukup baik, tidak sampai pada tahap membosankan.

Untuk itu, just keep your expectation low. Selama ekspektasi yang dipasang tidak berlebihan, Maze Runner memang akan selalu menjadi film yang menghibur. Sayangnya jika harus dibandingkan dengan pendahulunya, babak pertama tetaplah yang paling unggul dimana premis, efek visual dan sinematografi mampu melebur menjadi satu kesatuan yang membuat filmnya tampil memikat.

tdc1Pun begitu, kabar baiknya The Death Cure  tidak perlu dibagi menjadi dua bagian seperti yang banyak dilakukan film lain dengan alasan ingin meraup keuntungan dua kali, karena jika Ball dan pihak studio melakukan hal tersebut bisa jadi akan hasilnya akan berakhir dengan konklusi yang cenderung buruk. Premisnya sekali lagi tidak menawarkan sesuatu yang baru sehingga kisah akhir sekelompok anak muda yang terjebak dalam berbagai situasi melawan demi merasanya tidak perlu mendapat perpanjangan hingga dua bagian. Dengan durasi yang masih lebih dari dua jam, ini adalah sebuah penutup yang meskipun tidak istimewa namun dapat dikatakan cukup pantas. At least, secara keseluruhan trilogi ini berhasil dikerjakan dengan cukup baik, tidak berakhir seperti The Mortal Instruments: City of Bones ataupun The Host yang belum (atau malah) tidak jelas kelanjutannya, membuat Maze Runner menjadi cukup beralasan untuk dimulai kemudian diselesaikan.

Logan Lucky: Comeback Cerdas Sutradara Oscar

 

LLPOSTER

“You sucked my arm off!” – Clyde Logan

41

Cast: Channing Tatum, Adam Driver, Daniel Craig, Jack Quaid, Brian Gleeson, Riley Keough, Rebecca Koon, Katie Holmes, Farrah MacKenzie, Seth MacFarlane / Director: Steven Soderbergh / Genre: Comedy, Crime, Drama / Runtime: 118 minutes

Keputusan sutradara berbakat yang telah menelurkan berbagai karya-karya berkualitas, Steven Soderbergh untuk mundur dari dunia perfilman beberapa tahun silam tidak hanya menjadi kabar yang cukup mengejutkan melainkan juga amat disayangkan banyak pihak. Bagaimana tidak, film-film yang dibuatnya selalu mendapat sambutan dan review positif.  Torehan nominasi dan penghargaan dari berbagai ajang semakin membuktikan potensi besar yang dimilikinya. Beruntungnya, setelah benar-benar berhenti merilis film, tahun 2017 ia kembali ke bangku penyutradaraan lewat film bertema heist berunsur komedia yang menandai comeback-nya.

LL1Jimmy Logan (Channing Tatum) dan Clyde Logan (Adam Driver) adalah dua bersaudara yang masing-masing memiliki kekurangan. Jimmy pincang atas sebuah peristiwa yang dialaminya begitupun dengan Clyde yang kehilangan salah satu tangannya setelah di amputasi akibat kecelakaan saat ia menjadi tentara. Hal tersebut yang membuat mereka menyebut keluarga Logan adalah keluarga terkutuk. Jimmy yang baru saja dipecat merencanakan sebuah aksi pencurian dengan mengajak Clyde demi mendapatkan uang banyak dari acara balapan NASCAR, tempat dimana ia dulunya bekerja. Demi melancarkan aksinya, mereka kemudian merekrut perampok handal Joe Bang (Daniel Craig) yang sedang dipenjara, Fish dan Sam (Jack Quaid dan Brian Gleeson) dua bersaudara yang dulunya juga merupakan mantan perampok dan juga dibantu adik mereka, Mellie Logan (Riley Keough). Sayangnya, perampokan itu kemudian berhasil diketahui oleh CIA. Bagaimana akhir kisahnya?

Bagi sebagian besar orang, Logan Lucky mungkin tidak menarik lagi kehadirannya. Filmnya sendiri memang sudah rilis sejak Agustus tahun lalu di Amerika. Tidak dirilis secara serentak dimana jadwalnya terpaut jauh dari tanggal perilisan di Amerika, perilisannya di Indonesia sendiri terkesan tanpa publikasi (atau malah kami yang kurang informasi?) membuat film ini terasa bagaikan film kelas B yang hanya akan dirilis untuk menghabiskan stok film yang belum tayang. Setidaknya hal tersebut yang ada dibenak kami sebagai orang yang tidak tahu banyak akan filmnya. Tetapi setelah melihat sineas yang berada dibaliknya, belum lagi jajaran aktornya mulai dari Channing Tatum, Adam Driver hingga aktor pemeran James Bond, Daniel Craig tentu ini bukan film main-main meskipun terkadang casts yang bagus tidak dapat menjadi jaminan kualitas sebuah film.

logan-lucky-daniel-craigLalu bagaimana hasil akhirnya? Luar biasa. Logan Lucky merupakan sebuah comeback yang berhasil dan sangat menyenangkan. Soderbergh mampu menyajikan kisah perampokan yang seru, punya unsur komedi yang berkelas dan tentunya didukung performa pemain yang sangat baik. Ini adalah kali keempat Tatum bermain dalam film arahan sutradara yang meraih Oscar lewat Traffic (2000) ini sehingga mungkin tidak ada kesulitan dalam keduanya untuk bekerja sama menampilkan sosok karakter utama yang protagonis yang menjadi otak dari perampokan namun tetap mampu meraih simpati penontonnya. Driver juga tidak kalah bagusnya dalam memerankan tokoh Clyde. Meskipun kabarnya Michael Shannon dan Matt Damon-lah yang sebelumnya di plot untuk memerankan dua karakter utama tersebut namun Tatum & Driver rasanya sudah menjadi pilihan yang tepat. Sementara itu penampilan baik lainnya datang dari Quaid & Gleeson yang secara konsisten hadir sebagai ‘penghibur’ dalam film ini namun saja mungkin tidak ada yang sesukses Craig dimana karakter Joe Bang ditangannya menjadi sangat licik, menghibur dan memorable. Sebuah pertunjukan yang amat baik dari seluruh aktor dan aktris yang terlibat didalamnya.

Keseruan lainnya juga dapat dirasakan melalui upaya cerdas Soderbergh menampilkan adegan demi adegan dengan sangat menarik. Dari film ini kita bisa tahu ternyata dalam event balap sebesar NASCAR, ada sistem perputaran uang yang begitu unik, mungkin tidak banyak yang tahu sebelumnya. Selain itu ada teknik menyelinap dibawah mobil yang sangat rapi dan adegan menarik lainnya. Beberapa diantaranya mungkin  tidak masuk diakal tetapi siapa yang peduli, sang sutradara mampu mengemasnya menjadi film yang bergulir sangat menghibur. Bagian terbaik lainnya adalah sisi drama yang diangkat dengan porsi yang pas. Tanpa dramatisasi yang berlebihan, kita tetap mampu bersimpati akan hubungan keluarga Logan khususnya hubungan Jimmy dan anak serta sang mantan istri yang hadir dengan konflik sehari-hari. Peran Rebecca Blunt, sang penulis naskah tentu juga patut mendapat apresiasi. Dialog-dialog ringan namun ‘berisi’ memungkinkan film untuk tetap terasa meyakinkan dan terasa dekat. Logan Lucky membuktikan, sebuah film bagus memang tidak perlu berteriak untuk menunjukkan kualitasnya. Ringan, cerdas dan yang pasti sangat menghibur. Brilliant!

The Commuter: Formula Klise yang Menghibur

thecommuterposter

“It doesn’t have to end this way. Think about Karen, Danny…” – Joanna

3cinemaylo1141

Cast: Liam Neeson, Vera Farmiga, Patrick Wilson, Jonathan Banks, Sam Neil, Elizabeth McGovern, Killian Scott / Director: Jaume Collet-Serra / Genre: Action, Crime, Drama / Runtime: 105 minutes

Absen ditahun 2017 lalu dimana tidak ada nama Liam Neeson yang menghiasi layar bioskop Indonesia, mungkin ini bisa saja menjadi kabar menggembirakan bagi mereka yang ingin kembali melihat aksi aktor paruh baya tersebut dalam layar lebar. Sebenarnya Neeson tidak benar-benar absen. Ia membintangi beberapa serial tv dan bermain di film layar lebar yang hanya rilis terbatas. Berbicara mengenai karirnya sendiri, nama Neeson tentu sudah tidak asing lagi (bahkan mungkin sangat terkenal) di kalangan penonton dunia khususnya di Indonesia. Tentu kita tidak mungkin lupa dengan Taken, film aksi tahun 2006 yang filmnya dibuat sampai 3 babak yang turut melambungkan namanya. Kala itu Taken hadir dengan premis yang amat menarik mampu tampil sebagai salah satu film aksi yang tidak hanya berbobot tetapi juga sangat seru. Dianggap berhasil dalam menghidupkan karakter Bryan Mills, Neeson mendapat peran senada dalam film berjudul Non-stop dan kemudian Run All Night. Seakan sudah menjadi peran stereotipnya tahun ini ia kembali dengan film bertajuk The Commuter.

thumbnail_26856Film berkisah tentang seorang agen asuransi, Michael MacCauley (Liam Neeson) yang baru saja dipecat dari kantornya. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, pilihan pekerjaan untuknya tentu tidak banyak. Dalam perjalanan pulangnya, ia bertemu dengan Joanna (Vera Farmiga) wanita misterius yang secara tiba-tiba menawarinya pekerjaan yang terkesan mudah dan mendatangkan uang dalam jumlah yang cukup besar. Tugasnya adalah mencari sosok penumpang yang dianggap tidak seharusnya berada di dalam kereta yang ditumpanginya. Berbekal pengetahuannya sebagai penumpang kereta sejak 10 tahun terakhir, MacCauley pun memilih menerima tawaran tersebut yang pada akhirnya membawanya mau tidak mau menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.

Mudah ditebak, premisnya masih akan membahas keluarga dimana lagi lagi Neeson dihadapkan diposisi yang sulit yang menyangkut keselamatan orang yang dicintainya. Bosan? Tentu saja tidak. Film ini menandai kerjasama ketiga kali antara Neeson dan Jaume Collet-Serra yang sepertinya sudah menemukan formula yang pas dalam mengaduk-aduk perasaan penontonnya untuk ikut merasakan ketegangan dari tokoh utama yang diperankan Neeson dengan pas (meskipun tidak lagi menjadi sesuatu yang spesial). Sang aktor mungkin tidak sebugar biasanya namun sulit dipungkiri ia masih memiliki kharisma yang amat besar untuk peran sejenis. Meskipun rasanya tidak sejor-joran biasanya, adegan-adegan yang dilakoninya dalam kereta pun tersaji sangat rapi didukung dengan tata kamera yang mumpuni, terbukti masih mampu membuat penonton seolah-olah terbawa dalam aksi demi aksi dalam filmnya.

The-Commuter-Movie-Review-Liam-NeesonMeskipun tidak sampai dalam hitungan yang membosankan, apa yang tersaji dalam The Commuter sayangnya memang benar-benar tidak ada yang baru. Semua elemen yang hadir dalam film ketiga kolaborasi sang sutradara dan aktor berusia 65 tahun itu sudah pernah dihadirkan di film-film sebelumnya membuat The Commuter memang tidak lagi se-spesial Non-Stop apalagi Taken babak pertama. Naskahnya cukup padat meskipun diparuh akhir terasa kendur begitu saja. Beruntungnya cast lain masih mampu memberikan kontribusi positif dalam perannya masing-masing sehingga tidak terkesan hanya sebatas pemanis saja. Duo Vera Farmiga-Patrick Wilson yang terlanjur dikenal dalam perannya sebagai pasangan suami-istri Warren dalam The Conjuring tetap mampu tampil menarik.

Akhir kata, The Commuter tetaplah layak untuk ditonton tidak hanya bagi mereka penggemar Neeson namun juga kalian yang gemar akan film bergenre aksi berformula sama. Tetapi jika diibaratkan makanan yang disajikan tidak setiap hari tetapi berkala, tentu lama-lama akan terasa biasa saja. Yang pasti, jika masih diminati dan masih mampu meraup untung besar, film sejenis masih akan terus bermunculan dan Neeson akan tetap menjadi salah satu kandidat terdepan.