Dilan 1990: Suguhan Manis Dari Novel Laris

Jan 25, 2018 Uncategorized

“Milea, kamu cantik tapi aku belum mencintaimu, ga tau kalau sore, tunggu aja” – Dilan

208D8B00-5AC6-4315-BA59-EE828FFB5C57

Cast: Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Yoriko Angeline, Brandon Salim, Debo Andryos Aryanto, Zulfa Maharani, Giulio Parengkuhan, Refal Hadi, Ria Irawan, Happy Salma / Director: Fajar Bustomi & Pidi Baiq / Genre: Drama, Romance / Runtime: 115 minutes

Fenomenal dan dicintai pembacanya, dua kata yang setidaknya mampu menggambarkan kesuksesan Dilan, novel teenlit yang pertama kali diterbitkan pada bulan April 2014. Ditengah menurunnya penjualan buku laris karya penulis fiksi lokal, novel karya Pidi Baiq tersebut seakan membawa angin segar dalam kiprah perbukuan nasional. Tidak membutuhkan waktu yang lama, novel berdasarkan kisah nyata tersebut di cetak berkali-kali dan semakin populer dimana-mana. Tidak sedikit dari fans novelnya berharap kisah Dilan diangkat ke layar lebar. Sempat mengkonfirmasi bahwa novelnya tidak akan dibuatkan filmnya, adalah Max Pictures, rumah produksi yang berhasil membeli hak ciptanya untuk dibuatkan versi filmnya yang rilis diawal tahun ini.

C7103EF4-9D10-425A-96A4-B72CB83D1F8BMax Pictures yang masih merupakan bagian dari Falcon Pictures memang nampaknya semakin jeli dalam memilih materi filmnya. Setelah suksesnya Warkop DKI Reborn dan Comic 8, kini giliran Dilan yang dilirik. Falcon Pictures sendiri dapat dikatakan semakin serius dalam menggarap proyek-proyeknya Begitupun dengan Dilan yang mendapat treatment istimewa. Pengumuman siapa saja casts terpilih yang dilakukan pertengahan tahun lalu diwarnai pro dan kontra dari para fanatik novelnya. Yang paling menjadi highlight adalah sosok Dilan yang jatuh ke tangan mantan personel grup vokal CJR, Iqbaal mendapat kontra yang cukup banyak. Kala itu tidak sedikit yang memprediksi filmnya akan gagal karena karakter utama diperankan aktor yang dianggap ‘kurang mewakili’ apa yang menjadi imajinasi banyak orang selama ini. Lalu benarkah hasilnya tidak maksimal?

Milea (Vanesha Prescilla) adalah anak baru pindahan dari Jakarta sedangkan Dilan (Iqbaal Ramadhan) adalah siswa yang terkenal sering tawuran namun baik hati. Mereka bertemu di tahun 1990 disebuah SMA di Bandung dengan perkenalan yang tidak biasa. Dilan yang unik dan romantis dengan cepatnya masuk kedalam kehidupan Milea. Dilan meramal suatu hari nanti Milea akan menjadi pacarnya. Hal tersebut tidak berjalan mulus begitu saja mengingat Milea sudah memiliki kekasih di Jakarta bernama Beni (Brandon Salim). Perjalanan cinta mereka yang diwarnai berbagai konflik tidak menggetarkan keduanya yang mulai saling rindu, melengkapi dan membutuhkan satu sama lain.

Apa yang membuat Dilan begitu istimewa? Rupanya bahasanya yang dikemas ringan, puitis dan senantiasa mengundang tawa adalah kekuatan dari novelnya. Menerjemahkan novel menjadi sebuah film memang bukan pekerjaan yang mudah. Tidak jarang berakhir mengecewakan. Meskipun memiliki materi sederhana tidak lantas membuat pekerjaan Fajar Bustomi & Pidi Baiq sendiri selaku penulis novel sekaligus sutradara menjadi mudah. Beberapa faktor tentu menjadi sangat penting perannya dalam pengangkatan cerita yang mengambil latar Bandung ini. Sebagai orang yang belum pernah membaca novelnya, rasanya pemilihan casts tergolong tepat. Iqbaal yang banyak diragukan mampu membuktikan bahwa pilihan kreator dibalik film ini tidak salah. Tanpa kelihatan ragu sama sekali, Dilan diperankan dengan sangat baik olehnya. Karakter Dilan yang cuek, berani dan pemberontak namun rajin mengucapkan kata-kata puitis berhasil diwujudkannya dengan cukup sempurna. Begitupun Milea (Vanesha Prescilla) dimana chemistry-nya dengan Panglima Tempur mampu dirasakan oleh siapapun yang menyaksikannya.

9CA6B81C-0FF1-4222-B916-9266B3A03C7DDilan 1990 beruntungnya tidak pernah benar-benar menjadi kisah percintaan yang di dramatisir disana-sini. Dialog-dialog ringan yang sesekali terdengar kaku mampu termaafkan. Beberapa karakter terasa amat tipikal namun konfliknya yang tidak begitu beragam justru membuat film terasa semakin realistis, dimana sudah barang tentu hal tersebut adalah poin positif. Fajar & Pidi secara konsisten mampu membuat perasaan penontonnya menjadi campur aduk dan terbawa kedalam kisahnya sehingga penonton juga dibuat peduli akan karakter-karakternya. Jika sudah sampai pada level tersebut, sebuah adaptasi rasanya dapat dikatakan berhasil.

Keputusan pihak studio untuk mengangkat Dilan ke layar lebar nampaknya adalah sebuah keputusan yang tepat. Dengan pencapaian demikian, Dilan tidak hanya menjadi proyek yang dibuat atas alasan keuntungan semata tetapi juga menjadi jawaban atas permintaan fans yang sudah lama ingin kisah Dilan difilmkan. Bersiaplah meleleh melalui kisah cinta sederhana yang. Jangan skeptis dulu sebelum benar-benar menyaksikannya karena Dilan bisa saja mengembalikan ketidakpercayaan masyarakat akan film drama Indonesia yang dianggap akan selalu berakhir ‘menye-menye’. Pada akhirnya para pembacanya lah yang berhak menilai lebih dalam apakah adaptasinya berhasil atau tidak. Terlepas dari puas atau tidak puas jika berdiri sendiri sebagai sebuah film, ini adalah film yang sederhana, manis dan cukup memikat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.