A.X.L: Petualangan Minim Kesan

Oct 9, 2018 Uncategorized

153484989977543_300x430

25112

“I don’t think it’s owner deserves to get him back” – Miles

Cast: Alex Neustaedter, Becky G, Thomas Jane, Alex MacNicoll, Lou Taylor Pucci, Ted McGinley / Director: Oliver Daly / Genre: Adventure, Sci-fi / Running time: 98 minutes.

Mungkin tidak banyak yang tahu tentang film ini. Jelas bukan tipe film kelas A yang diantisipasi banyak orang, film yang asalnya merupakan pengembangan cerita dari film pendek karya sang sutradara berjudul Miles ini adalah film sci-fi. Dari melihat trailernya, mungkin penonton dengan mudah menebak akan kemana arah alurnya, lantas masihkah A.X.L yang konsepnya sedikit mengingatkan kita dengan film-film berformula sejenis seperti Transformers ataupun yang terbaru Alpha ini termasuk film dengan kategori film yang ‘boleh di tonton tetapi jika di skip juga tidak masalah’? Suguhannya meskipun tidak baru tentu membuktikan pembuktian apakah benar tidak lebih dari sekedar sci-fi mainstream atau malah unpromising movie yang hasilnya ternyata jauh lebih baik dari ekspektasi?

imageFilm ini berkisah tentang perjalanan Miles (Alex Neustaedter) yang bercita-cita menjadi pembalap motor terbaik. Kehidupannya kemudian berubah setelah menemukan robot anjing dan mulai mencoba berinteraksi dengannya robot tersebut. A.X.L singkatan dari Attack, Exploration & Logistics adalah robot masa depan berjantung organik anjing hasil eskperimen pihak militer yang diciptakan untuk keperluan perang. Mengetahui bahewa temuannya itu bersifat berbahaya, Miles yang berniat mengamankan dan menyelamatkan sahabat barunya itu kemudian harus mengalami serangkaian petualangan menegangkan dikejar oleh pihak musuk yang menginginkan robot tersebut kembali. Dengan bantuan Sara (Becky G), Miles berusaha meyakinkan orang banyak bahwa sahabatnya bukanlah robot yang berbahaya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sebuah film yang mengangkat kisah yang terasa familiar dengan film-film rilisan sebelumnya. Toh, originalitas memang bukan menjadi penentu sebuah film akan berakhir bagus ataupun sebaliknya. Contohnya saja Crazy Rich Asians. Oh, come on.. siapa yang tidak setuju jika dikatakan bahwa plot film tersebut selain tidak menawarkan hal baru juga merupakan plot film drama yang terlampau usang dimana film dengan formula tersebut sudah sangat sering kita jumpai. Namun apa yang membuat film yang melambungkan nama Henry Golding tersebut tetap mampu tampil memikat dan bahkan meraih rating bagus di situs film dunia? Ada banyak faktor tentu, salah satunya adalah performa para cast-nya. Yang terpenting tentu eksekusi filmnya secara keseluruhan. Sayangnya, A.X.L gagal hampir di seluruh poin-poin penting. Secara individual, performa cast terasa kurang mumpuni. Hal tersebut berdampak pula pada chemistry antar pemain yang kurang believable. Otomatis emosi yang diharapkan dapat dihadirkan, tidak selalu berhasil tercipta.

AXL-clip-screenshot-600x302Eksekusi yang secara keseluruhan terasa tidak maksimal juga membuat A.X.L gagal menutupi kesalahan-kesalahan di part lain meskipun tidak dipungkiri bahwa kisah from zero to hero atau yang mengangkat sisi emosional antara manusia dengan hewan/robot selalu menarik untuk di tonton. Yang tersaji dalam 98 menit adalah adegan demi adegan klise yang tidak terlihat niat untuk diperbaharui sehingga terasa hanya mengulang-ulang format yang sama dari film sejenis. Tidak sampai berakhir sangat buruk, masih ada beberapa adegan yang cukup mampu membuat senyum tersungging, tapi jelas ini adalah film yang forgettable. Kembali ke pertanyaan awal, apakah film ini cukup di rekomendasikan? Ya, boleh ditonton namun di skip pun tidak masalah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.